Blog ini menyediakan informasi dan ilmu pengetahuan, tips & trik, software & gadget, buku & novel, cerpen & artikel motivasi, info lowongan kerja dll.
Rabu, 20 Desember 2017
Kisah Pengusaha Kopi Kaya Pura-pura Jadi Tukang Becak Untuk Serahkan Sedekah 300 Juta
Kisah Pengusaha Kopi Kaya Pura-pura Jadi Tukang Becak Untuk Serahkan Sedekah 300 Juta - Sekarang banyak orang yang melihat dari luarnya saja tanpa tahu dalamnya seperti apa, tanpa tahu siapa orang itu sebenarnya, tanpa tahu bahwa sebenarnya itu orang kaya yang berpenampilan sederhana. Pandangan manusia seringkali tertuju pada penampilan maupun harta yang nyata dipakainya. Manusia lebih menghargai mereka yang menaiki mobil mewah, berbusana mahal dan penampilan fisik yang rupawan.
Sementara itu, orang yang memiliki fisik tidak terlalu rupawan, harta yang tidak seberapa serta kendaraan yang apa adanya seringkali menjadi buah ejekan bahkan hinaan. Padahal manusia terbaik dalam pandangan Allah adalah manusia yang memiliki akhlak dan ketakwaan yang baik. Seperti kisah orang kaya yang sederhana berikut ini yang menyumbangkan uang 300 juta untuk pembangunan masjid. Simak kisahnya berikut ini.
Di sebuah daerah perkotaan yang tengah merencanakan pembangunan masjid, Pengurus masjid kekurangan dana dalam mencapai pembangunan tersebut. Segala upaya yang dilakukan sudah dikerahkan sekuat tenaga, namun hanya sedikit saja warga yang mau menyumbang dan itu pun dalam jumlah dana yang kecil sehingga pembangunan yang harusnya bisa beres dalam waktu yang cepat akhirnya harus ditunda dahulu karena kekurangan dana.
Di tengah kebingungan tersebut, ketua panitia pembangunan masjid didatangi oleh seseorang yang menggunakan pakaian yang seadanya. Si ketua panitia segera menjawab salam dan menengok dahulu dari jendela siapakah gerangan yang berkunjung ke rumahnya tersebut. Dengan sifat orang perkotaan yang sedikit melihat materi, si ketua panitia tersebut hanya fokus mengecek apakah tamu yang datang kepadanya menggunakan kendaraan seperti mobil atau motor.
Namun rupanya tamu yang datang tersebut tidak menggunakan kendaraan apapun dan sempat terbesit dalam benak si empunya rumah, “Untuk apa sih orang miskin tersebut datang kesini?”
Karena memang tamu tersebut sudah ada di depan pintu, akhirnya si ketua panitia mempersilakannya untuk masuk dan menyuruhnya untuk duduk. Setelah beberapa menit menanyakan tentang kedatangannya ke kediaman ketua panitia pembangunan masjid, akhirnya tamu tersebut bertanya, “Kira-kira berapa dana yang dibutuhkan Pak untuk pembangunan masjid tersebut?” Karena merasa bahwa tamunya bukanlah orang kaya, dengan ketus dan sedikit meremehkan, si ketua panitia berkata, “Sekitar 300 jutaan sih.”
Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkannya, akhirnya tamu tersebut berpamitan dengan sebelumnya memberikan nomor ponsel miliknya. Ia berpesan kepada ketua panitia, “Pak kalo bisa besok atau lusa sempatkan waktu untuk datang ke kantor Agama untuk mengurusi surat-surat pembangunan. Namun sebelum itu sebaiknya bapak menelepon saya terlebih dahulu ke nomor ini. Insyaallah mudah-mudahan ada rezeki untuk pembangunan tersebut.”
Meski sempat sedikit tidak percaya, namun si ketua panitia mengiyakan dan malam harinya ia berkata kepada panitia lainnya tentang kedatangan tamu yang dialaminya sore tadi. Sebagian dari panitia tersebut ada yang berkata ketus, “Sudahlah jangan urusin orang itu. Biarkan saja. Coba, darimana orang tersebut bisa dapat uang segitu untuk pembangunan masjid kita ini?”
Karena omongan beberapa rekannya tersebut, sang ketua panitia akhirnya memutuskan untuk tidak datang ke kantor Agama esok harinya.
Siang harinya, dengan idzin Allah seorang warga yang sekaligus jamaah yang ada di sana ingin mengambil sebuah mobil di show room dan ingin ditemani oleh sang ketua panitia. Maka berangkatlah mereka berdua ke show room yang ternyata berdekatan dengan kantor Agama.
Saat telah selesai mengurus transaksi pengambilan mobil, mereka berdua pun beranjak pulang. Saat melihat ke arah kantor Agama, ketua panitia merasa penasaran dan berkata kepada rekannya tersebut, “Gimana kalau kita datang aja ke kantor Agama da menelepon tamu yang kemarin?” Meski sempat ragu, akhirnya rekannya tersebut mengiyakan juga.
“Assalamualaikum pak ! Gimana jadi mau menyumbangkan untuk pembangunan masjid yang kemarin? Saya tunggu Bapak sampai jam 11 pas. Jika Bapak terlambat, saya tidak akan menunggu karena saya banyak urusan.” Begitulah pernyataan ketua panitia tersebut saat menelepon tamu yang kemarin datang ke rumahnya.
Saat jam menunjukkan pukul 11 lebih 5 menit, keduanya berinisiatif untuk pulang. Namun dari kejauhan tampak sosok tamu yang kemarin datang dan tengah menaiki becak menghampiri kantor Agama.
Ia pun berkata, “Maaf Pak saya sedikit telat. Mari kita sama-sama langsung masuk saja ke kantor Agama.” Mereka pun masuk dengan didahului oleh tamu tersebut.
Saat berada di ruangan yang dituju, tamu yang telah ditunggu oleh ketua panitia dan rekannya tersebut langsung mengeluarkan uang dari tasnya dan menyuruh kepada petugas kantor Agama agar segera menghitungnya dan membuat kwitansi serah terimanya. Dengan santai ia berkata, “Tulis saja sumbangan ini atas nama Hamba Allah dan tidak usah menulis nama saya. Pencatatan ini memang diperlukan sebagai arsip dan memang Allah menyuruh agar setiap transaksi haruslah dicatat, apalagi menyangkut harta benda.”
Yang paling membuat kedua panitia pembangunan masjid terkejut adalah jumlah uang yang dikeluarkan oleh orang tersebut yang berjumlah 300 juta rupiah. Dengan sedikit rasa malu bercampur rendah diri, keduanya menundukkan pandangan karena kemarin dan pas datang tadi mereka sempat meremehkan orang tersebut yang dikira orang miskin.
Namun setelah diselidiki, ternyata sosok sederhana tersebut adalah seorang pengusaha kebun kopi yang sudah memiliki kekayaan melimpah namun tetap tidak sombong dengan kekayaannya.
Subhanallah…. semoga Allah mengkaruniakan rezeki yang melimpah kepada kita semua tanpa sedikit pun membuat kita jauh dari beribadah kepadaNya serta mudah-mudahan dijauhkan dari sikap bermewah-mewahan akan titipan Allah tersebut.
Semoga juga Allah membersihkan hati kita dari memandang seseorang karena materi yang dimilikinya di dunia karena sebaik-baik harta adalah amal shaleh dan ketakwaan yang akan dibawa hingga mati. Amiin
Sumber : http://www.serunik.com/2016/01/kisah-pengusaha-kopi-kaya-pura-pura.html
Sementara itu, orang yang memiliki fisik tidak terlalu rupawan, harta yang tidak seberapa serta kendaraan yang apa adanya seringkali menjadi buah ejekan bahkan hinaan. Padahal manusia terbaik dalam pandangan Allah adalah manusia yang memiliki akhlak dan ketakwaan yang baik. Seperti kisah orang kaya yang sederhana berikut ini yang menyumbangkan uang 300 juta untuk pembangunan masjid. Simak kisahnya berikut ini.
Di sebuah daerah perkotaan yang tengah merencanakan pembangunan masjid, Pengurus masjid kekurangan dana dalam mencapai pembangunan tersebut. Segala upaya yang dilakukan sudah dikerahkan sekuat tenaga, namun hanya sedikit saja warga yang mau menyumbang dan itu pun dalam jumlah dana yang kecil sehingga pembangunan yang harusnya bisa beres dalam waktu yang cepat akhirnya harus ditunda dahulu karena kekurangan dana.
Di tengah kebingungan tersebut, ketua panitia pembangunan masjid didatangi oleh seseorang yang menggunakan pakaian yang seadanya. Si ketua panitia segera menjawab salam dan menengok dahulu dari jendela siapakah gerangan yang berkunjung ke rumahnya tersebut. Dengan sifat orang perkotaan yang sedikit melihat materi, si ketua panitia tersebut hanya fokus mengecek apakah tamu yang datang kepadanya menggunakan kendaraan seperti mobil atau motor.
Namun rupanya tamu yang datang tersebut tidak menggunakan kendaraan apapun dan sempat terbesit dalam benak si empunya rumah, “Untuk apa sih orang miskin tersebut datang kesini?”
Karena memang tamu tersebut sudah ada di depan pintu, akhirnya si ketua panitia mempersilakannya untuk masuk dan menyuruhnya untuk duduk. Setelah beberapa menit menanyakan tentang kedatangannya ke kediaman ketua panitia pembangunan masjid, akhirnya tamu tersebut bertanya, “Kira-kira berapa dana yang dibutuhkan Pak untuk pembangunan masjid tersebut?” Karena merasa bahwa tamunya bukanlah orang kaya, dengan ketus dan sedikit meremehkan, si ketua panitia berkata, “Sekitar 300 jutaan sih.”
Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkannya, akhirnya tamu tersebut berpamitan dengan sebelumnya memberikan nomor ponsel miliknya. Ia berpesan kepada ketua panitia, “Pak kalo bisa besok atau lusa sempatkan waktu untuk datang ke kantor Agama untuk mengurusi surat-surat pembangunan. Namun sebelum itu sebaiknya bapak menelepon saya terlebih dahulu ke nomor ini. Insyaallah mudah-mudahan ada rezeki untuk pembangunan tersebut.”
Meski sempat sedikit tidak percaya, namun si ketua panitia mengiyakan dan malam harinya ia berkata kepada panitia lainnya tentang kedatangan tamu yang dialaminya sore tadi. Sebagian dari panitia tersebut ada yang berkata ketus, “Sudahlah jangan urusin orang itu. Biarkan saja. Coba, darimana orang tersebut bisa dapat uang segitu untuk pembangunan masjid kita ini?”
Karena omongan beberapa rekannya tersebut, sang ketua panitia akhirnya memutuskan untuk tidak datang ke kantor Agama esok harinya.
Siang harinya, dengan idzin Allah seorang warga yang sekaligus jamaah yang ada di sana ingin mengambil sebuah mobil di show room dan ingin ditemani oleh sang ketua panitia. Maka berangkatlah mereka berdua ke show room yang ternyata berdekatan dengan kantor Agama.
Saat telah selesai mengurus transaksi pengambilan mobil, mereka berdua pun beranjak pulang. Saat melihat ke arah kantor Agama, ketua panitia merasa penasaran dan berkata kepada rekannya tersebut, “Gimana kalau kita datang aja ke kantor Agama da menelepon tamu yang kemarin?” Meski sempat ragu, akhirnya rekannya tersebut mengiyakan juga.
“Assalamualaikum pak ! Gimana jadi mau menyumbangkan untuk pembangunan masjid yang kemarin? Saya tunggu Bapak sampai jam 11 pas. Jika Bapak terlambat, saya tidak akan menunggu karena saya banyak urusan.” Begitulah pernyataan ketua panitia tersebut saat menelepon tamu yang kemarin datang ke rumahnya.
Saat jam menunjukkan pukul 11 lebih 5 menit, keduanya berinisiatif untuk pulang. Namun dari kejauhan tampak sosok tamu yang kemarin datang dan tengah menaiki becak menghampiri kantor Agama.
Ia pun berkata, “Maaf Pak saya sedikit telat. Mari kita sama-sama langsung masuk saja ke kantor Agama.” Mereka pun masuk dengan didahului oleh tamu tersebut.
Saat berada di ruangan yang dituju, tamu yang telah ditunggu oleh ketua panitia dan rekannya tersebut langsung mengeluarkan uang dari tasnya dan menyuruh kepada petugas kantor Agama agar segera menghitungnya dan membuat kwitansi serah terimanya. Dengan santai ia berkata, “Tulis saja sumbangan ini atas nama Hamba Allah dan tidak usah menulis nama saya. Pencatatan ini memang diperlukan sebagai arsip dan memang Allah menyuruh agar setiap transaksi haruslah dicatat, apalagi menyangkut harta benda.”
Yang paling membuat kedua panitia pembangunan masjid terkejut adalah jumlah uang yang dikeluarkan oleh orang tersebut yang berjumlah 300 juta rupiah. Dengan sedikit rasa malu bercampur rendah diri, keduanya menundukkan pandangan karena kemarin dan pas datang tadi mereka sempat meremehkan orang tersebut yang dikira orang miskin.
Namun setelah diselidiki, ternyata sosok sederhana tersebut adalah seorang pengusaha kebun kopi yang sudah memiliki kekayaan melimpah namun tetap tidak sombong dengan kekayaannya.
Subhanallah…. semoga Allah mengkaruniakan rezeki yang melimpah kepada kita semua tanpa sedikit pun membuat kita jauh dari beribadah kepadaNya serta mudah-mudahan dijauhkan dari sikap bermewah-mewahan akan titipan Allah tersebut.
Semoga juga Allah membersihkan hati kita dari memandang seseorang karena materi yang dimilikinya di dunia karena sebaik-baik harta adalah amal shaleh dan ketakwaan yang akan dibawa hingga mati. Amiin
Sumber : http://www.serunik.com/2016/01/kisah-pengusaha-kopi-kaya-pura-pura.html
CEO yang Menyamar Sebagai Pegawai Baru Ini Mendapati Pegawai yang Selalu Memotivasinya Adalah “Seorang Ibu Tunggal Tanpa Rumah” dan Dia pun Jatuh Lemas Setelah Tahu Itu Pimpinannya
Banyak industri jasa harus berurusan dengan apa yang disebut “pelanggan rahasia”, mereka adalah staf yang bertanggung jawab menilai kinerja karyawan yang secara khusus dikirim oleh perusahaan menyelinap tanpa diketahui di antara pelanggan.
Namun, “rahasia” yang dihadapi Angel yang bekerja di bagian ritel itu sangat istimewa. Dia adalah CEO perusahan Mitchell Modell yang menyamar sebagai pegawai baru, dan Angel ditugaskan untuk membimbingnya.
CEO sebuah perusahaan grosir bernama Mitchell Modell ini menyamar menjadi seorang pegawai baru di tokonya. Dia pun akhirnya mengikuti bimbingan bagi karyawan baru dari seorang karyawan bernama Angel.
Pihak perusahaan pun telah memberitahu Angel bahwa mereka akan merekam proses pelatihan ini untuk dijadikan dokumentasi perusahaannya, tetapi mereka sama sekali tidak memberitahukan Angel bahwa yang dia bimbing adalah CEO perusahaan tersebut.
Dalam proses pelatihan tersebut, Mitchell menemukan beberapa karyawan di bagian garis depan mengalami masalah, selain itu juga menemukan bahwa Angel secara pribadi juga bekerja sesuai dengan ketentuan perusahaan, sangat ramah terhadap pelanggan.
Angel pun kemudian membawa Mitchell ke gudang dan menanyakan beberapa hal mengenai pekerjaan Mitchell dulu.
Mitchell pun membohongi Angel dengan mengatakan bahwa dulunya dia membuka sebuah toko, namun bangkrut karena usahanya tidak terlalu bagus, dan sekarang jatuh miskin.
Setelah mendengar secara ringkas masa lalunya, Angel berkata : “Meskipun terkadang Anda merasa sedih, tapi selama Anda terus memotivasi diri sendiri, Anda akan merasa bahagia.”
Setelah mendengar pengalaman Angel, Michelle memutuskan untuk bertanya Masa lalu Angel, dan cerita Angel pun membuat Mitchell sangat terkejut.
Angel mengatakan bahwa dulunya dia adalah seorang manajer di sebuah restoran, tetapi di PHK karena mengandung anak yang ketiga. Saat itu ia berusia 25 tahun, dan menggelandang di jalanan bersama ketiga anaknya.
Mereka pernah menahan lapar dan tidur di stasiun kereta api, sampai akhirnya mereka tinggal di tempat penampungan tunawisma. Hingga sekarang Angel tetap berusaha keras dan tidak menyerah pada nasibnya.
Angel berkata sambil menatap wajah Mitchelll yang sedih dan meneteskan air mata. “Tapi tidak masalah bagiku, saya tidak ingin Anda merasa sedih atas apa yang saya alami,” katanya.
Tak lama setelah pelatihan tersebut berakhir, Angel pun mendapatkan surat panggilan untuk bertemu dengan CEO perusahaan.
Pada saat itu, Mitchell pun membuka identitasnya di depan Angel bahwa dia adalah CEO perusahaan tempat dia bekerja, dan sontak saja hal itu pun membuat Angel terperangah !
Mitchell berkata, “Saya sangat sedih jika gaji perusahaan ini tidak cukup membuatmu memiliki rumah, namun, karena kinerja dan pandangan hidupmu, saya memutuskan untuk menambah gajimu menjadi 14.000 dolar AS (189 juta rupiah).
Angel benar-benar tidak percaya setelah mendengar keterangan Mitchell, CEO-nya.
Dan balasan yang akan diberikan Mitchell pada Angel tidak hanya kenaikan gaji, ia mengatakan bahwa setelah pelatihan yang dia jalani bersama Angel pada saat itu.
Dia pun terus berpikir bagaimana caranya untuk membantu Angel, hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk memberikan Angel selembar cek bebas pajak, supaya Angel dan anak-anaknya tidak perlu tinggal di tempat penampungan tunawisma lagi.
Nominal yang tertera dalam cek senilai 250.000 dolar AS atau sekitar 3.3 miliar rupiah, Mendengar semua itu, Angel pun sangat kaget sampai kakinya lemas dan jatuh berlutut di depan Mitchell.
Mitchell kemudian mengangkat Angel menjadi asisten manajer. Sementara Angel menggunakan cek tersebut untuk membeli sebuah rumah. Anak-anaknya pun kini tidak perlu lagi hidup sebagai gelandangan.
Angel yang bekerja dengan sepenuh hati ini akhirnya mendapatkan berkah yang tak diduganya.
Alangkah indahnya jika para bos di dunia seperti CEO Mitchell ini, terjun langsung untuk memahami Kondisi para pekerja rendahan, dan entah perubahan apa yang akan terjadi jika memang demikian adanya.(jhn/yant)
Sumber: goodtimes.my
Selasa, 17 Januari 2017
AKU DAN KOPI HITAM

Kopi
Hitam, nampak tidak ada yang istimewa pada dirimu, hitam, pahit dan murahan apabila
tidak dikombinasi dengan gula, harusnya engkau berterima kasih pada gula, karna
tanpa gula kamu bukan siapa-siapa. Begitupun denganku, engkau tidak pernah ku lirik
sedikitpun pada awal aku mengenal kopi, kembali saya katakan engkau pahit dan
hitam nampak tidak ada yang istimewa di mataku, baik rasa dan harummu. Tapi disaat
aku mulai jenuh dengan kopi kopi yang bisa aku nikmati, aku mencoba untuk
menikmatimu, meskipun pada awalnya saya nikmatimu karna tidak kopi lain lagi,
tapi seiring waktu, mungkin kamu balas dendam karna cemohanku yang begitu
mengiris hatimu, hingga akhirnya kamu membuat aku bertekuk lutut untuk terus
mencarimu, jika dalam sehari saja aku tidak menemukanmu, kamu membuat kepalaku
seakan mau meledak, yang saya takutkan kapan2 kepalaku meledak, daya ledakannya
seperti bom hirosima dan nagasaki yang diledakkan oleh sekutu dan meluluh
lantahkan jepang pada pada saat pernang dunia ke 2. Kopi Hitam maaf aku yang
dulu, sekarang aku termakan oleh cemohanku diwaktu dulu karna belum mengenalmu,
betul tawwa kata pepatah “ tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”
aku hanya menilaimu dari luar, sehingga saya salah menilaimu. betul juga kata
orang bijak, “ jangan menilai sesuatu tentang apa yang belum kamu ketahui dan
jangan menilai orang lain dari apa yang dikatakan orang. kenali dulu, sehingga
jangan seperti saya, yang menilai kopi hitam cuman dari luarnya saja yang
nampak hitam dan murahan, karna segala sesuatu pasti memiliki kelebihan.
Kembali
saya mengangkat cerita tentang sebuah kesombongan seseorang yang merendahkan
derajat orang lain, berikut ceritanya:
JANGAN
SOMBONG

Ada seorang filsuf yang menaiki sebuah perahu kecil ke suatu
tempat. Karena merasa bosan dalam perahu, kemudian dia pun mencari pelaut untuk
berdiskusi.
Filsuf
menanyakan kepada pelaut itu: ” Apakah Anda mengerti filosofi?”
“Tidak mengerti.” Jawab pelaut.
“Wahh, sayang sekali, Anda telah kehilangan setengah dari seluruh kehidupan Anda.
“Tidak mengerti.” Jawab pelaut.
“Wahh, sayang sekali, Anda telah kehilangan setengah dari seluruh kehidupan Anda.
Apakah
Anda mengerti matematika?” Filsuf tersebut bertanya lagi.
“Tidak mengerti juga.” Jawab pelaut tersebut.
“Tidak mengerti juga.” Jawab pelaut tersebut.
Filsuf
itu, menggelengkan kepalanya seraya berkata:
“Sayang sekali, bahkan Anda tidak mengerti akan matematika.
Berarti Anda telah kehilangan lagi setengah dari kehidupan Anda.”
“Sayang sekali, bahkan Anda tidak mengerti akan matematika.
Berarti Anda telah kehilangan lagi setengah dari kehidupan Anda.”
Tiba-tiba
ada ombak besar, membuat perahu tersebut terombang-ambing. Ada beberapa tempat
telah kemasukan air,
Perahu tersebut akan tenggelam, filsuf tersebut ketakutan. Seketika, pelaut pun bertanya pada filsuf: ” Tuan, apakah Anda bisa berenang?”
Perahu tersebut akan tenggelam, filsuf tersebut ketakutan. Seketika, pelaut pun bertanya pada filsuf: ” Tuan, apakah Anda bisa berenang?”
Filsuf
dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berkata: “Saya tidak bisa, cepat
tolonglah saya.”
Pelaut menertawakannya dan berkata: “Berenang Anda tidak bisa, apa arti dari kehidupan Anda? Berarti Anda akan kehilangan seluruh kehidupan Anda.”
Pelaut menertawakannya dan berkata: “Berenang Anda tidak bisa, apa arti dari kehidupan Anda? Berarti Anda akan kehilangan seluruh kehidupan Anda.”
Semua orang sebenarnya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Bangga atas prestasi itu wajar saja, tetapi jangan sampai membuat diri sendiri
menjadi sombong maupun angkuh akan prestasi tersebut. Ingatlah, selalu ada yang
lebih pintar dari kita. Dan kita juga masih perlu belajar dari kelebihan orang
lain.
Langganan:
Komentar (Atom)






