Saat berkunjung ke Balikpapan beberapa waktu lalu, saya diajak patner bisnis saya untuk mencicipi Sop Konro yang uenak sekali. Begitu promosi patner saya tentang masakan yang satu ini. "Tapi jangan kaget ya, tempat nya di gang kecil, sebelah kantor pusat BCA, emperan kaki lima, tapi kesiangan dikit, dijamin ga kebagian..", begitu promosinya pada saya.
Saya yang pada dasarnya emang doyan mencicipi makanan enak, tambah penasaran dengan kuliner ini.
Waktu sampai di lokasi, memang sedikit kaget, karena tempat makan yang satu ini memang benar-benar di gang sempit. "Yang paling enak apa ya, Sop konro atau sop saudara?", begitu tanya saya pada karyawan yang melayani. Saya pun memesan semangkok sop konro, setelah seorang bapak yang sedang makan di dekat saya bilang lebih mantap sop konro nya.
Bener banget, begitu menyeruput kuahnya pertama kali, langsung terasa maknyus banget... "Wah, tanpa tambahan kecap atau apapun lagi, enak bener nih...", sahutku sambil menoleh ke teman yang mengajak.
Belakangan saya tahu bahwa si bapak yang tadi merekomendasikan tak lain adalah pak Jhony, si pemilik warung Jhony Konro.
Setelah puas menghabiskan seluruh isi sop di mangkuk, Saya pun menghampiri Pak Jhony yang sedang merapikan beberapa barang untuk ngobrol. Saya penasaran ingin tahu apa rahasia beliau bisa sukses punya warung yang laris manis ini. Sebab beliau buka mulai jam 9-10 pagi, paling sian jam 14 pasti sudah ludes. Bahkan waktu teman saya hendak pesan 1 bungkus untuk dibawa pulang saja sudah ga kebagian, padahal saat itu masih jam 12.30.
Menurut penuturan beliau sudah mulai berdagang sendiri sejak tahun 1994, setelah sebelumnya merantau ke Balikpapan di tahun 1984. Beliau memang asli orang Makasar.
"Awalnya dulu saya belajar dulu, ikut orang Mas.. saya dulu awal meranta juga kerja macem-macem, mulai kuli bangunan, pedagang asongan sampai jadi sopir truk, .." begitu beliau bercerita. "Intinya saya mau belajar, tapi sejak awal saya sudah putuskan suatu hari saya harus bisa punya usaha sendiri dan mandiri."
"Oya...hebat yaa.." sahut saya. "Trus kenapa sehari cuma jual 300 porsi pak?". Sungguh saya penasaran, kenapa laris begini kok ga mau ditambahin jualannya. Saya jadi ingat cerita Mas Mayong yang juga punya kemiripan.
"Enggak, guru saya sudah pesen, jangan ditambahin, biar orang nyari, besok masih ada lagi kok", begitu jawab Bang Jhony..
Rupanya ini adalah salah satu strategi supaya orang terus penasaran dan terus mencari masakan beliau. Walau Saya yakin bang Jhony tidak pernah ikutan kursus marketing, rupanya jurus-jurus marketingnya lebih jitu ketimbang yang sudah ikutan berbagai macam kelas teori.
Saya coba berhitung sederhana, jika sehari jual 300 porsi, dan harga semangkuk sop Rp. 35.000,- ditambah minuman seharga Rp. 5.000,- (nasi nya gratis lho)... ini artinya per orang minimal mengeluarkan Rp. 40.000,- sekali kesitu. Dalam sehari, omzet minimal kan sudah 12 juta rupiah bukan? Itu belum termasuk menu lainnya. Padahal ada beberapa menu andalan disitu.
Kebayang kan berapa pundi-pundi bang Jhony tiap bulannya?
“Saya karyawan ada 4 orang Mas, sebulan saya gaji 2,4juta. Tempat lain mana ada yang berani? Kenapa Saya buka cuma sampe jam 3 siang? Sengaja biar mereka juga bisa istirahat”, begitu tuturnya jujur.
Bayangkan Anda kerja dari pagi-pagi buta berangkat ke kantor, pulang malam hari, apa iya penghasilannya bisa nandingin Bang Jhony? J Dia bayar karyawan aja sudah 10 juta sendiri lho...
Itulah sebabnya Indonesia perlu lebih banyak entrepreneur, lebih banyak orang yang berjiwa pengusaha, lebih banyak orang yang terbuka terhadap perubahan jaman, bahwa sekarang sudah saatnya menjadi mandiri dan mengatur masa depan kita serta memberikan manfaat buat banyak orang.
Modalnya? Kemauan dan Mimpi yang besar, bukan jumlah tabungan aja. Karena mimpi yang besar bisa membawa Anda kemanapun.
Sumber : https://www.kompasiana.com/trainingbisnis/kisah-sukses-pedagang-warungan-beromzet-ratusan-juta_57a2c461357b613e0c2f30ea
Tidak ada komentar:
Posting Komentar