Rabu, 20 Desember 2017

Kisah Sukses Pedagang Warungan Beromzet Ratusan Juta

Saat berkunjung ke Balikpapan beberapa waktu lalu, saya diajak patner bisnis saya untuk mencicipi Sop Konro yang uenak sekali. Begitu promosi patner saya tentang masakan yang satu ini. "Tapi jangan kaget ya, tempat nya di gang kecil, sebelah kantor pusat BCA, emperan kaki lima, tapi kesiangan dikit, dijamin ga kebagian..", begitu promosinya pada saya.
Saya yang pada dasarnya emang doyan mencicipi makanan enak, tambah penasaran dengan kuliner ini.
Waktu sampai di lokasi, memang sedikit kaget, karena tempat makan yang satu ini memang benar-benar di gang sempit. "Yang paling enak apa ya, Sop konro atau sop saudara?", begitu tanya saya pada karyawan yang melayani. Saya pun memesan semangkok sop konro, setelah seorang bapak yang sedang makan di dekat saya bilang lebih mantap sop konro nya. 

Bener banget, begitu menyeruput kuahnya pertama kali, langsung terasa maknyus banget... "Wah, tanpa tambahan kecap atau apapun lagi, enak bener nih...", sahutku sambil menoleh ke teman yang mengajak.
Belakangan saya tahu bahwa si bapak yang tadi merekomendasikan tak lain adalah pak Jhony, si pemilik warung Jhony Konro.
Setelah puas menghabiskan seluruh isi sop di mangkuk, Saya pun menghampiri Pak Jhony yang sedang merapikan beberapa barang untuk  ngobrol. Saya penasaran ingin tahu apa rahasia beliau bisa sukses punya warung yang laris manis ini. Sebab beliau buka mulai jam 9-10 pagi, paling sian jam 14 pasti sudah ludes. Bahkan waktu teman saya hendak pesan 1 bungkus untuk dibawa pulang saja sudah ga kebagian, padahal saat itu masih jam 12.30.
Menurut penuturan beliau sudah mulai berdagang sendiri sejak tahun 1994, setelah sebelumnya merantau ke Balikpapan di tahun 1984. Beliau memang asli orang Makasar. 
"Awalnya dulu saya belajar dulu, ikut orang Mas.. saya dulu awal meranta juga kerja macem-macem, mulai kuli bangunan, pedagang asongan sampai jadi sopir truk, .." begitu beliau bercerita. "Intinya saya mau belajar, tapi sejak awal saya sudah putuskan suatu hari saya harus bisa punya usaha sendiri dan mandiri."
"Oya...hebat yaa.." sahut saya. "Trus kenapa sehari cuma jual 300 porsi pak?". Sungguh saya penasaran, kenapa laris begini kok ga mau ditambahin jualannya. Saya jadi ingat cerita Mas Mayong yang juga punya kemiripan.
"Enggak, guru saya sudah pesen, jangan ditambahin, biar orang nyari, besok masih ada lagi kok", begitu jawab Bang Jhony..
Rupanya ini adalah salah satu strategi supaya orang terus penasaran dan terus mencari masakan beliau. Walau Saya yakin bang Jhony tidak pernah ikutan kursus marketing, rupanya jurus-jurus marketingnya lebih jitu ketimbang yang sudah ikutan berbagai macam kelas teori.

Saya coba berhitung sederhana, jika sehari jual 300 porsi, dan harga semangkuk sop Rp. 35.000,- ditambah minuman seharga Rp. 5.000,- (nasi nya gratis lho)... ini artinya per orang minimal mengeluarkan Rp. 40.000,- sekali kesitu. Dalam sehari, omzet minimal kan sudah 12 juta rupiah bukan? Itu belum termasuk menu lainnya. Padahal ada beberapa menu andalan disitu.
Kebayang kan berapa pundi-pundi bang Jhony tiap bulannya?
“Saya karyawan ada 4 orang Mas, sebulan saya gaji 2,4juta. Tempat lain mana ada yang berani? Kenapa Saya buka cuma sampe jam 3 siang? Sengaja biar mereka juga bisa istirahat”, begitu tuturnya jujur.
Bayangkan Anda kerja dari pagi-pagi buta berangkat ke kantor, pulang malam hari, apa iya penghasilannya bisa nandingin Bang Jhony? J Dia bayar karyawan aja sudah 10 juta sendiri lho...
Itulah sebabnya Indonesia perlu lebih banyak entrepreneur, lebih banyak orang yang berjiwa pengusaha, lebih banyak orang yang terbuka terhadap perubahan jaman, bahwa sekarang sudah saatnya menjadi mandiri dan mengatur masa depan kita serta memberikan manfaat buat banyak orang.
Modalnya? Kemauan dan Mimpi yang besar, bukan jumlah tabungan aja. Karena mimpi yang besar bisa membawa Anda kemanapun.

Sumber : https://www.kompasiana.com/trainingbisnis/kisah-sukses-pedagang-warungan-beromzet-ratusan-juta_57a2c461357b613e0c2f30ea

Kisah Pengusaha Kopi Kaya Pura-pura Jadi Tukang Becak Untuk Serahkan Sedekah 300 Juta

Kisah Pengusaha Kopi Kaya Pura-pura Jadi Tukang Becak Untuk Serahkan Sedekah 300 Juta - Sekarang banyak orang yang melihat dari luarnya saja tanpa tahu dalamnya seperti apa, tanpa tahu siapa orang itu sebenarnya, tanpa tahu bahwa sebenarnya itu orang kaya yang berpenampilan sederhana. Pandangan manusia seringkali tertuju pada penampilan maupun harta yang nyata dipakainya. Manusia lebih menghargai mereka yang menaiki mobil mewah, berbusana mahal dan penampilan fisik yang rupawan.



Sementara itu, orang yang memiliki fisik tidak terlalu rupawan, harta yang tidak seberapa serta kendaraan yang apa adanya seringkali menjadi buah ejekan bahkan hinaan. Padahal manusia terbaik dalam pandangan Allah adalah manusia yang memiliki akhlak dan ketakwaan yang baik. Seperti kisah orang kaya yang sederhana berikut ini yang menyumbangkan uang 300 juta untuk pembangunan masjid. Simak kisahnya berikut ini.

Di sebuah daerah perkotaan yang tengah merencanakan pembangunan masjid, Pengurus masjid kekurangan dana dalam mencapai pembangunan tersebut. Segala upaya yang dilakukan sudah dikerahkan sekuat tenaga, namun hanya sedikit saja warga yang mau menyumbang dan itu pun dalam jumlah dana yang kecil sehingga pembangunan yang harusnya bisa beres dalam waktu yang cepat akhirnya harus ditunda dahulu karena kekurangan dana.

Di tengah kebingungan tersebut, ketua panitia pembangunan masjid didatangi oleh seseorang yang menggunakan pakaian yang seadanya. Si ketua panitia segera menjawab salam dan menengok dahulu dari jendela siapakah gerangan yang berkunjung ke rumahnya tersebut. Dengan sifat orang perkotaan yang sedikit melihat materi, si ketua panitia tersebut hanya fokus mengecek apakah tamu yang datang kepadanya menggunakan kendaraan seperti mobil atau motor.

Namun rupanya tamu yang datang tersebut tidak menggunakan kendaraan apapun dan sempat terbesit dalam benak si empunya rumah, “Untuk apa sih orang miskin tersebut datang kesini?”

Karena memang tamu tersebut sudah ada di depan pintu, akhirnya si ketua panitia mempersilakannya untuk masuk dan menyuruhnya untuk duduk. Setelah beberapa menit menanyakan tentang kedatangannya ke kediaman ketua panitia pembangunan masjid, akhirnya tamu tersebut bertanya, “Kira-kira berapa dana yang dibutuhkan Pak untuk pembangunan masjid tersebut?” Karena merasa bahwa tamunya bukanlah orang kaya, dengan ketus dan sedikit meremehkan, si ketua panitia berkata, “Sekitar 300 jutaan sih.”

Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkannya, akhirnya tamu tersebut berpamitan dengan sebelumnya memberikan nomor ponsel miliknya. Ia berpesan kepada ketua panitia, “Pak kalo bisa besok atau lusa sempatkan waktu untuk datang ke kantor Agama untuk mengurusi surat-surat pembangunan. Namun sebelum itu sebaiknya bapak menelepon saya terlebih dahulu ke nomor ini. Insyaallah mudah-mudahan ada rezeki untuk pembangunan tersebut.”

Meski sempat sedikit tidak percaya, namun si ketua panitia mengiyakan dan malam harinya ia berkata kepada panitia lainnya tentang kedatangan tamu yang dialaminya sore tadi. Sebagian dari panitia tersebut ada yang berkata ketus, “Sudahlah jangan urusin orang itu. Biarkan saja. Coba, darimana orang tersebut bisa dapat uang segitu untuk pembangunan masjid kita ini?”

Karena omongan beberapa rekannya tersebut, sang ketua panitia akhirnya memutuskan untuk tidak datang ke kantor Agama esok harinya.

Siang harinya, dengan idzin Allah seorang warga yang sekaligus jamaah yang ada di sana ingin mengambil sebuah mobil di show room dan ingin ditemani oleh sang ketua panitia. Maka berangkatlah mereka berdua ke show room yang ternyata berdekatan dengan kantor Agama.

Saat telah selesai mengurus transaksi pengambilan mobil, mereka berdua pun beranjak pulang. Saat melihat ke arah kantor Agama, ketua panitia merasa penasaran dan berkata kepada rekannya tersebut, “Gimana kalau kita datang aja ke kantor Agama da menelepon tamu yang kemarin?” Meski sempat ragu, akhirnya rekannya tersebut mengiyakan juga.

“Assalamualaikum pak ! Gimana jadi mau menyumbangkan untuk pembangunan masjid yang kemarin? Saya tunggu Bapak sampai jam 11 pas. Jika Bapak terlambat, saya tidak akan menunggu karena saya banyak urusan.” Begitulah pernyataan ketua panitia tersebut saat menelepon tamu yang kemarin datang ke rumahnya.

Saat jam menunjukkan pukul 11 lebih 5 menit, keduanya berinisiatif untuk pulang. Namun dari kejauhan tampak sosok tamu yang kemarin datang dan tengah menaiki becak menghampiri kantor Agama.

Ia pun berkata, “Maaf Pak saya sedikit telat. Mari kita sama-sama langsung masuk saja ke kantor Agama.” Mereka pun masuk dengan didahului oleh tamu tersebut.

Saat berada di ruangan yang dituju, tamu yang telah ditunggu oleh ketua panitia dan rekannya tersebut langsung mengeluarkan uang dari tasnya dan menyuruh kepada petugas kantor Agama agar segera menghitungnya dan membuat kwitansi serah terimanya. Dengan santai ia berkata, “Tulis saja sumbangan ini atas nama Hamba Allah dan tidak usah menulis nama saya. Pencatatan ini memang diperlukan sebagai arsip dan memang Allah menyuruh agar setiap transaksi haruslah dicatat, apalagi menyangkut harta benda.”

Yang paling membuat kedua panitia pembangunan masjid terkejut adalah jumlah uang yang dikeluarkan oleh orang tersebut yang berjumlah 300 juta rupiah. Dengan sedikit rasa malu bercampur rendah diri, keduanya menundukkan pandangan karena kemarin dan pas datang tadi mereka sempat meremehkan orang tersebut yang dikira orang miskin.

Namun setelah diselidiki, ternyata sosok sederhana tersebut adalah seorang pengusaha kebun kopi yang sudah memiliki kekayaan melimpah namun tetap tidak sombong dengan kekayaannya.

Subhanallah…. semoga Allah mengkaruniakan rezeki yang melimpah kepada kita semua tanpa sedikit pun membuat kita jauh dari beribadah kepadaNya serta mudah-mudahan dijauhkan dari sikap bermewah-mewahan akan titipan Allah tersebut.

Semoga juga Allah membersihkan hati kita dari memandang seseorang karena materi yang dimilikinya di dunia karena sebaik-baik harta adalah amal shaleh dan ketakwaan yang akan dibawa hingga mati. Amiin

Sumber : http://www.serunik.com/2016/01/kisah-pengusaha-kopi-kaya-pura-pura.html

CEO yang Menyamar Sebagai Pegawai Baru Ini Mendapati Pegawai yang Selalu Memotivasinya Adalah “Seorang Ibu Tunggal Tanpa Rumah” dan Dia pun Jatuh Lemas Setelah Tahu Itu Pimpinannya

Banyak industri jasa harus berurusan dengan apa yang disebut “pelanggan rahasia”, mereka adalah staf yang bertanggung jawab menilai kinerja karyawan yang secara khusus dikirim oleh perusahaan menyelinap tanpa diketahui di antara pelanggan.


Namun, “rahasia” yang dihadapi Angel yang bekerja di bagian ritel itu sangat istimewa. Dia adalah CEO perusahan Mitchell Modell yang menyamar sebagai pegawai baru, dan Angel ditugaskan untuk membimbingnya.

CEO sebuah perusahaan grosir bernama Mitchell Modell ini menyamar menjadi seorang pegawai baru di tokonya. Dia pun akhirnya mengikuti bimbingan bagi karyawan baru dari seorang karyawan bernama Angel.
Pihak perusahaan pun telah memberitahu Angel bahwa mereka akan merekam proses pelatihan ini untuk dijadikan dokumentasi perusahaannya, tetapi mereka sama sekali tidak memberitahukan Angel bahwa yang dia bimbing adalah CEO perusahaan tersebut.
Dalam proses pelatihan tersebut, Mitchell menemukan beberapa karyawan di bagian garis depan mengalami masalah, selain itu juga menemukan bahwa Angel secara pribadi juga bekerja sesuai dengan ketentuan perusahaan, sangat ramah terhadap pelanggan.
Angel pun kemudian membawa Mitchell ke gudang dan menanyakan beberapa hal mengenai pekerjaan Mitchell dulu.

Mitchell pun membohongi Angel dengan mengatakan bahwa dulunya dia membuka sebuah toko, namun bangkrut karena usahanya tidak terlalu bagus, dan sekarang jatuh miskin.
Setelah mendengar secara ringkas masa lalunya, Angel berkata : “Meskipun terkadang Anda merasa sedih, tapi selama Anda terus memotivasi diri sendiri, Anda akan merasa bahagia.”
Setelah mendengar pengalaman Angel, Michelle memutuskan untuk bertanya Masa lalu Angel, dan cerita Angel pun membuat Mitchell sangat terkejut.
Angel mengatakan bahwa dulunya dia adalah seorang manajer di sebuah restoran, tetapi di PHK karena mengandung anak yang ketiga. Saat itu ia berusia 25 tahun, dan menggelandang di jalanan bersama ketiga anaknya.

Mereka pernah menahan lapar dan tidur di stasiun kereta api, sampai akhirnya mereka tinggal di tempat penampungan tunawisma. Hingga sekarang Angel tetap berusaha keras dan tidak menyerah pada nasibnya.
Angel berkata sambil menatap wajah Mitchelll yang sedih dan meneteskan air mata. “Tapi tidak masalah bagiku, saya tidak ingin Anda merasa sedih atas apa yang saya alami,” katanya.

Tak lama setelah pelatihan tersebut berakhir, Angel pun mendapatkan surat panggilan untuk bertemu dengan CEO perusahaan.
Pada saat itu, Mitchell pun membuka identitasnya di depan Angel bahwa dia adalah CEO perusahaan tempat dia bekerja, dan sontak saja hal itu pun membuat Angel terperangah !
Mitchell berkata, “Saya sangat sedih jika gaji perusahaan ini tidak cukup membuatmu memiliki rumah, namun, karena kinerja dan pandangan hidupmu, saya memutuskan untuk menambah gajimu menjadi 14.000 dolar AS (189 juta rupiah).
Angel benar-benar tidak percaya setelah mendengar keterangan Mitchell, CEO-nya.
Dan balasan yang akan diberikan Mitchell pada Angel tidak hanya kenaikan gaji, ia mengatakan bahwa setelah pelatihan yang dia jalani bersama Angel pada saat itu.
Dia pun terus berpikir bagaimana caranya untuk membantu Angel, hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk memberikan Angel selembar cek bebas pajak, supaya Angel dan anak-anaknya tidak perlu tinggal di tempat penampungan tunawisma lagi.
Nominal yang tertera dalam cek senilai 250.000 dolar AS atau sekitar 3.3 miliar rupiah, Mendengar semua itu, Angel pun sangat kaget sampai kakinya lemas dan jatuh berlutut di depan Mitchell.
Mitchell kemudian mengangkat Angel menjadi asisten manajer. Sementara Angel menggunakan cek tersebut untuk membeli sebuah rumah. Anak-anaknya pun kini tidak perlu lagi hidup sebagai gelandangan.
Angel yang bekerja dengan sepenuh hati ini akhirnya mendapatkan berkah yang tak diduganya.
Alangkah indahnya jika para bos di dunia seperti CEO Mitchell ini, terjun langsung untuk memahami Kondisi para pekerja rendahan, dan entah perubahan apa yang akan terjadi jika memang demikian adanya.(jhn/yant)
Sumber: goodtimes.my