Selasa, 17 Januari 2017

AKU DAN KOPI HITAM


Gambar terkait

 Kopi Hitam, nampak tidak ada yang istimewa pada dirimu, hitam, pahit dan murahan apabila tidak dikombinasi dengan gula, harusnya engkau berterima kasih pada gula, karna tanpa gula kamu bukan siapa-siapa. Begitupun denganku, engkau tidak pernah ku lirik sedikitpun pada awal aku mengenal kopi, kembali saya katakan engkau pahit dan hitam nampak tidak ada yang istimewa di mataku, baik rasa dan harummu. Tapi disaat aku mulai jenuh dengan kopi kopi yang bisa aku nikmati, aku mencoba untuk menikmatimu, meskipun pada awalnya saya nikmatimu karna tidak kopi lain lagi, tapi seiring waktu, mungkin kamu balas dendam karna cemohanku yang begitu mengiris hatimu, hingga akhirnya kamu membuat aku bertekuk lutut untuk terus mencarimu, jika dalam sehari saja aku tidak menemukanmu, kamu membuat kepalaku seakan mau meledak, yang saya takutkan kapan2 kepalaku meledak, daya ledakannya seperti bom hirosima dan nagasaki yang diledakkan oleh sekutu dan meluluh lantahkan jepang pada pada saat pernang dunia ke 2. Kopi Hitam maaf aku yang dulu, sekarang aku termakan oleh cemohanku diwaktu dulu karna belum mengenalmu, betul tawwa kata pepatah “ tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta” aku hanya menilaimu dari luar, sehingga saya salah menilaimu. betul juga kata orang bijak, “ jangan menilai sesuatu tentang apa yang belum kamu ketahui dan jangan menilai orang lain dari apa yang dikatakan orang. kenali dulu, sehingga jangan seperti saya, yang menilai kopi hitam cuman dari luarnya saja yang nampak hitam dan murahan, karna segala sesuatu pasti memiliki kelebihan.
Kembali saya mengangkat cerita tentang sebuah kesombongan seseorang yang merendahkan derajat orang lain, berikut ceritanya:

JANGAN SOMBONG

 Jangan Sombong

Ada seorang filsuf yang menaiki sebuah perahu kecil ke suatu tempat. Karena merasa bosan dalam perahu, kemudian dia pun mencari pelaut untuk berdiskusi.
Filsuf menanyakan kepada pelaut itu: ” Apakah Anda mengerti filosofi?”
“Tidak mengerti.” Jawab pelaut.
“Wahh, sayang sekali, Anda telah kehilangan setengah dari seluruh kehidupan Anda.
Apakah Anda mengerti matematika?” Filsuf tersebut bertanya lagi.
“Tidak mengerti juga.” Jawab pelaut tersebut.
Filsuf itu, menggelengkan kepalanya seraya berkata:
“Sayang sekali, bahkan Anda tidak mengerti akan matematika.
Berarti Anda telah kehilangan lagi setengah dari kehidupan Anda.”
Tiba-tiba ada ombak besar, membuat perahu tersebut terombang-ambing. Ada beberapa tempat telah kemasukan air,
Perahu tersebut akan tenggelam, filsuf tersebut ketakutan. Seketika, pelaut pun bertanya pada filsuf: ” Tuan, apakah Anda bisa berenang?”
Filsuf dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berkata: “Saya tidak bisa, cepat tolonglah saya.”
Pelaut menertawakannya dan berkata: “Berenang Anda tidak bisa, apa arti dari kehidupan Anda? Berarti Anda akan kehilangan seluruh kehidupan Anda.”

Semua orang sebenarnya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Bangga atas prestasi itu wajar saja, tetapi jangan sampai membuat diri sendiri menjadi sombong maupun angkuh akan prestasi tersebut. Ingatlah, selalu ada yang lebih pintar dari kita. Dan kita juga masih perlu belajar dari kelebihan orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar