
Kopi
Hitam, nampak tidak ada yang istimewa pada dirimu, hitam, pahit dan murahan apabila
tidak dikombinasi dengan gula, harusnya engkau berterima kasih pada gula, karna
tanpa gula kamu bukan siapa-siapa. Begitupun denganku, engkau tidak pernah ku lirik
sedikitpun pada awal aku mengenal kopi, kembali saya katakan engkau pahit dan
hitam nampak tidak ada yang istimewa di mataku, baik rasa dan harummu. Tapi disaat
aku mulai jenuh dengan kopi kopi yang bisa aku nikmati, aku mencoba untuk
menikmatimu, meskipun pada awalnya saya nikmatimu karna tidak kopi lain lagi,
tapi seiring waktu, mungkin kamu balas dendam karna cemohanku yang begitu
mengiris hatimu, hingga akhirnya kamu membuat aku bertekuk lutut untuk terus
mencarimu, jika dalam sehari saja aku tidak menemukanmu, kamu membuat kepalaku
seakan mau meledak, yang saya takutkan kapan2 kepalaku meledak, daya ledakannya
seperti bom hirosima dan nagasaki yang diledakkan oleh sekutu dan meluluh
lantahkan jepang pada pada saat pernang dunia ke 2. Kopi Hitam maaf aku yang
dulu, sekarang aku termakan oleh cemohanku diwaktu dulu karna belum mengenalmu,
betul tawwa kata pepatah “ tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”
aku hanya menilaimu dari luar, sehingga saya salah menilaimu. betul juga kata
orang bijak, “ jangan menilai sesuatu tentang apa yang belum kamu ketahui dan
jangan menilai orang lain dari apa yang dikatakan orang. kenali dulu, sehingga
jangan seperti saya, yang menilai kopi hitam cuman dari luarnya saja yang
nampak hitam dan murahan, karna segala sesuatu pasti memiliki kelebihan.
Kembali
saya mengangkat cerita tentang sebuah kesombongan seseorang yang merendahkan
derajat orang lain, berikut ceritanya:
JANGAN
SOMBONG

Ada seorang filsuf yang menaiki sebuah perahu kecil ke suatu
tempat. Karena merasa bosan dalam perahu, kemudian dia pun mencari pelaut untuk
berdiskusi.
Filsuf
menanyakan kepada pelaut itu: ” Apakah Anda mengerti filosofi?”
“Tidak mengerti.” Jawab pelaut.
“Wahh, sayang sekali, Anda telah kehilangan setengah dari seluruh kehidupan Anda.
“Tidak mengerti.” Jawab pelaut.
“Wahh, sayang sekali, Anda telah kehilangan setengah dari seluruh kehidupan Anda.
Apakah
Anda mengerti matematika?” Filsuf tersebut bertanya lagi.
“Tidak mengerti juga.” Jawab pelaut tersebut.
“Tidak mengerti juga.” Jawab pelaut tersebut.
Filsuf
itu, menggelengkan kepalanya seraya berkata:
“Sayang sekali, bahkan Anda tidak mengerti akan matematika.
Berarti Anda telah kehilangan lagi setengah dari kehidupan Anda.”
“Sayang sekali, bahkan Anda tidak mengerti akan matematika.
Berarti Anda telah kehilangan lagi setengah dari kehidupan Anda.”
Tiba-tiba
ada ombak besar, membuat perahu tersebut terombang-ambing. Ada beberapa tempat
telah kemasukan air,
Perahu tersebut akan tenggelam, filsuf tersebut ketakutan. Seketika, pelaut pun bertanya pada filsuf: ” Tuan, apakah Anda bisa berenang?”
Perahu tersebut akan tenggelam, filsuf tersebut ketakutan. Seketika, pelaut pun bertanya pada filsuf: ” Tuan, apakah Anda bisa berenang?”
Filsuf
dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berkata: “Saya tidak bisa, cepat
tolonglah saya.”
Pelaut menertawakannya dan berkata: “Berenang Anda tidak bisa, apa arti dari kehidupan Anda? Berarti Anda akan kehilangan seluruh kehidupan Anda.”
Pelaut menertawakannya dan berkata: “Berenang Anda tidak bisa, apa arti dari kehidupan Anda? Berarti Anda akan kehilangan seluruh kehidupan Anda.”
Semua orang sebenarnya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Bangga atas prestasi itu wajar saja, tetapi jangan sampai membuat diri sendiri
menjadi sombong maupun angkuh akan prestasi tersebut. Ingatlah, selalu ada yang
lebih pintar dari kita. Dan kita juga masih perlu belajar dari kelebihan orang
lain.