Ada yang berbeda enam bulan terakhir ini di kehidupan saya. (Eeh buset, saya tidak menemukan padanan kata yang gak lebih lebay dari kata kehidupan.. ....)
Sejak istri melahirkan , praktis saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Rutinitas saya lebih terasa feel bapak rumahan. Awalnya sempat nyesek juga kehilangan banyak momen bersama teman-teman nongkrong, Tapi apapun itu, belakangan saya sadar bahwa sebaik-sebaik destinasi wisata ternyata gak jauh dari kehangatan keluarga. Apalagi kalo udah dipipisin si kecil, inilah kehangatan dalam arti yang sebenarnya.
Satu hal yang saya syukuri, tidak ada istilah quality time di akhir pekan, karena semua waktu adalah waktu berkualitas saat bisa melihat perkembangan anak dan stand by ketika mereka butuhkan.Toh istilah quality time konon sengaja diciptakan oleh kaum urban untuk menutupi kegagalan mereka atas quantity time yang jarang bisa diraih.
Anjrit, keren banget kan? padahal ini saya copas juga , tapi lupa di mana. hehehhe...
Menjelang jam menunjukkan pukul 08.00, Alkahf (panggilan anak kami) biasanya sudah tidur pulas. Tapi anehnya si kecil ini rutin bangun dan nangis di malam hari, saya duga ini semacam kamuflase untuk mencegah orang tuanya berkoalisi merencanakan adik baru lagi. Entahlah..
Nambah anak, tentunya ada resiko item tambahan dalam anggaran rumah tangga. Ini bisa jadi rumit kalo dibikin rumit, karena rumah tangga itu pada dasarnya udah rumit. Kalo yang sederhana itu bukan rumah tangga namanya, tapi rumah makan. Sebagai karyawan yang entah kapan naik golongan , ini tentu saja jadi tantangan buat saya. Ini juga salah satu alasan mengapa saya berupaya keras menjadi pria tampan, gak lain karena merasa gagal jadi pria mapan.
Gaji sebenarnya sudah lumayan berkecukupan. tapi namanya gajian itu tidak pernah datang sendirian, ia membonceng sekutu bernama tagihan, arisan, dan kreditan.
Tapi untunglah ketemu istri pengertian. tidak ada paksaan untuk mapan, apalagi tampan. Suami tampan dan mapan katanya gak bisa jadi jaminan kebahagiaan, karena yang bisa jadi jaminan itu sertifikat tanah dan BKPB mobil. Halah.. ..
Sejak istri melahirkan , praktis saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Rutinitas saya lebih terasa feel bapak rumahan. Awalnya sempat nyesek juga kehilangan banyak momen bersama teman-teman nongkrong, Tapi apapun itu, belakangan saya sadar bahwa sebaik-sebaik destinasi wisata ternyata gak jauh dari kehangatan keluarga. Apalagi kalo udah dipipisin si kecil, inilah kehangatan dalam arti yang sebenarnya.
Satu hal yang saya syukuri, tidak ada istilah quality time di akhir pekan, karena semua waktu adalah waktu berkualitas saat bisa melihat perkembangan anak dan stand by ketika mereka butuhkan.Toh istilah quality time konon sengaja diciptakan oleh kaum urban untuk menutupi kegagalan mereka atas quantity time yang jarang bisa diraih.
Anjrit, keren banget kan? padahal ini saya copas juga , tapi lupa di mana. hehehhe...
Menjelang jam menunjukkan pukul 08.00, Alkahf (panggilan anak kami) biasanya sudah tidur pulas. Tapi anehnya si kecil ini rutin bangun dan nangis di malam hari, saya duga ini semacam kamuflase untuk mencegah orang tuanya berkoalisi merencanakan adik baru lagi. Entahlah..
Nambah anak, tentunya ada resiko item tambahan dalam anggaran rumah tangga. Ini bisa jadi rumit kalo dibikin rumit, karena rumah tangga itu pada dasarnya udah rumit. Kalo yang sederhana itu bukan rumah tangga namanya, tapi rumah makan. Sebagai karyawan yang entah kapan naik golongan , ini tentu saja jadi tantangan buat saya. Ini juga salah satu alasan mengapa saya berupaya keras menjadi pria tampan, gak lain karena merasa gagal jadi pria mapan.
Gaji sebenarnya sudah lumayan berkecukupan. tapi namanya gajian itu tidak pernah datang sendirian, ia membonceng sekutu bernama tagihan, arisan, dan kreditan.
Tapi untunglah ketemu istri pengertian. tidak ada paksaan untuk mapan, apalagi tampan. Suami tampan dan mapan katanya gak bisa jadi jaminan kebahagiaan, karena yang bisa jadi jaminan itu sertifikat tanah dan BKPB mobil. Halah.. ..
Nah, istri yang begini ini yang membuat suami gak pernah terbersit niat untuk menggandakan, apalagi menjandakan, kecuali maut yang memisahkan. Eeeaa...
Alhamdulillah, melewati tahun pertama pernikahan, kami masih adem, Penggunaan kata "masih" ini tentu saja bukan dengan harapan kelak bakal ada apa-apanya.
Alhamdulillah, melewati tahun pertama pernikahan, kami masih adem, Penggunaan kata "masih" ini tentu saja bukan dengan harapan kelak bakal ada apa-apanya.
Setahun lebih ini sekadar merujuk pada standarisasi keutuhan rumah tangga menurut parameter infotaimen. Alhamdulillah kami udah melewatinya dengan mulus. Romantisme masih terjaga baik. Ke manapun saya pergi, istri selalu setia jadi alarm. Sekadar diingatkan makan, walaupun jarang diingatkan minum. Bersambung……








